Wednesday, January 26, 2011

PLAGIARISME DAN POPULARITAS GAYA HIDUP BARU: Aktualisasi Diri atau Lemahnya Budaya Malu?

Sebuah artikal yang menarik saya kongsikan bersama dari blog Indonesia Artis oleh Deni S. jusmani.

PLAGIARISME DAN POPULARITAS GAYA HIDUP BARU: Aktualisasi Diri atau Lemahnya Budaya Malu?
oleh Deni S. Jusmani
Karikatur karya kartunis Polandia, Marcin Bondarowicz yang mengritik tentang praktik plagiarisme. (foto: google)
AKAR permasalahan dari 'pencurian ide' ini sebetulnya sangat erat dengan gaya hidup, yang celakanya telah disepakati bersama. Kenapa? Untuk menjawab ini, saya perlu meminjam pikirannya Baudrillard bahwa ada peran media massa yang dianggap sebagai jantung dari kebudayaan, ada suatu hiperealitas dimana masyarakat dijejali dengan citra dan informasi. Tidak mudah bagi seorang plagiator untuk melakukan plagiarisme tanpa dukungan lingkungan yang kondusif dan ketersediaan informasi mengenai kebutuhan plagiarisme itu sendiri. Artinya, seluruh elemen budaya yang terlibat dalam kebutuhan plagiarisme (seperti: konsumen, produsen, dan media) saling menopang kegiatan ini, sehingga plagiarisme ini akan tetap eksis sampai saat ini.

Kenapa dikatakan sebagai gaya hidup baru, ini mengacu pada terbentuknya stigma berpikir ala konsumerisme yang dimanjakan oleh kapitalisme gaya hidup itu sendiri. Dimana para plagiarisme merasa seakan pola pikir yang semacam ini merupakan kesepakatan sah dan disahkan oleh masyarakat, sehingga bukannya mereka merasa malu atau pun 'berdosa' ketika melakukan plagiat, melainkan bangga karena merasa ikut bagian dari lingkaran kesepakatan tersebut. Baik konsumen, produsen, dan media plagiarisme sama-sama sepakat untuk melakukan kegiatan ini, dan sekali lagi, disepakati oleh masyarakat pendukung gaya hidup ini.

Kenapa plagiarisme menjadi eksis?

Saya bergaya, maka saya ada. Pemahaman ini telah mengakar pada kehidupan masyarakat sosial mulai abad modern ini. Pemahaman ini juga mengakar dan sekaligus merambah pada banyak bidang, termasuk dalam dunia pendidikan. Celakanya juga, sebagian besar landasan pendidikan dan teori pendidikan di Indonesia merupakan barang impor yang sekali lagi dilegalkan. 80% buku yang dipublikasikan di Indonesia merupakan hasil pemikiran, kalau tidak mau dikatakan terjemahan, orang non-pribumi. Hasil impor. Sungguh memprihatinkan. Ini juga menunjukkan kesepakatan antara ketiga elemen budaya tadi. Plagiarisme pendidikan menjadi eksis dan masuk pada ranah gaya hidup, jadi seluruh elemen pendidikan menjadi bergaya. Kalau kata dosen saya, Prof. Gustami, seorang tokoh seni rupa, bahwa tidak kerenrasanya, kurang gagah, jika tidak memasukkan kutipan berbahasa asing dalam karya tulis ilmiah tertentu. Dalam konteks ini, beliau sepakat, jika referensi asing hanya untuk gagah-gagahan saja. Kekesalan ini juga dilontarkan oleh Prof. R.M. Soedarsono, seorang tokoh tari, sekian banyak disertasi yang dikoreksi beliau, sebagian besar atas pemikiran bangsa Barat, padahal, untuk memahami kesenian yang berkembang di Indonesia. Mana bisa? Kedua tokoh ini memandang referensi lokal sering diabaikan, padahal merupakan konstruksi penting dalam merekonstruksi pola pikir pendidikan di Indonesia. Sekali lagi, ranah gaya hidup mewarnai dunia pendidikan Indonesia, sebagai wujud keterpurukan para pakar pendidikan Indonesia, yang dibentuk sebagai kesepakatan untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

Jawaban kenapa orang melalukan plagiarisme ini menjadi sangat beragam, manakala ditinjau atas dasar kepentingan. Saya akan membagi menjadi tiga kepentingan, atas dasar tiga elemen budaya, yaitu: kepentingan produsen, kepentingan konsumen, dan kepentingan media. Kepentingan produsen tentu akan mencari dan menjual produknya dengan sistem keteraturan dan hasil yang sebesar-besarnya. Dalam plagiarisme, produsen diposisikan sebagai badan, kelompok, atau komunitas yang melakukan jual jasa pembuat karya tulis, seperti: artikel, skripsi, tesis, bahkan disertasi. Ironisnya, sudah tahu bahwa ini masuk pada pelanggaran wilayah 'orisinilitas ide', tetapi tetap saja muncul iklan, reklame, dan ajakan untuk menggunakan jasa mereka, dan 'diijinkan' oleh lembaga pendidikan. Kepentingan produsen ini tentu saja sejalan dengan setelah adanya kepentingan konsumen, ibarat sebuah pangsa pasar, konsumen akademik memiliki nilai jual beli tinggi. Manakala ketidakmampuan akademik, lemahnya rangsangan berpikir maju, serta bobroknya budaya malu, yang ditunjang juga atas tersedianya sarana dan prasarana, maka kegiatan untuk melakukan plagiarisme semakin menjadi-jadi. Tentu tidak bisa disalahkan adanya kepentingan media, yang digunakan untuk publikasi kepentingan produsen, karena sebagai mediator, peranannya juga sangat dibutuhkan. Kepentingan media bukan serta merta untuk memajukan plagiarisme, tetapi lebih pada nilai ekonomis dan alasan biaya produksi media. Ketiga kepentingan ini mampu merekonstruksi gunung-gunung plagiarisme di Indonesia. Seharusnyalah, ketiga kepentingan ini saling merevisi tujuan dan maksud teroperasionalnya kegiatan plagiarisme. Paling tidak, ada seleksi moral terhadap masing-masing kepentingan. Jika tidak, gaya hidup plagiarisme akan semakin marak didunia pendidikan Indonesia.

Saya kira, hukuman pencopotan guru besar dan pemecatan pada dosen di Universitas Parahyangan, Bandung (Kompas, 10 Februari 2010), atas plagiarisme yang dilakukan, dapat dilihat sebagai proses aktualisasi diri seorang dosen kepada lingkungan pendidikannya, dengan cara-cara yang dipandang sebagai ketidakpercayaan diri atas kemampuan yang dimiliki. Menurut pandangan Rogers dalam Schultz (1991), aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis. Aktualisasi diri ini disebabkan untuk memenuhi kebutuhan, diantaranya: kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan cinta, dan kebutuhan untuk mendapat penghargaan. Aktualisasi ini menjadi negatif, saat cara-cara yang dilakukan dan dirasa merugikan pihak lain atau bertentangan dengan norma-norma tertentu, misalnya: pada kasus gugatan yang menimpa JK Rowling, atas dugaan dan tuduhan mencuri gagasan untuk buku-buku Harry Potter, yang digugat oleh pengacara-pengacara almarhum penulis Adrian Jacobs (Kompas, 19 Februari 2010). Kasus ini merupakan aktualisasi yang melibatkan minimal pihak JK Rowling dan para pengacara Adrian Jacobs.

Menurut Maslow, seseorang baru dapat melakukan aktualisasi diri, yaitu keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri, apabila seseorang telah merasa bahwa kebutuhan fisiologis (kebutuhan makan dan minum), rasa aman, kebutuhan sosial, dan kebutuhan akan harga diri telah terpenuhi dengan baik. Kebutuhan fisiologis, rasa aman, dan kebutuhan cinta muncul sebagai perkembangan jiwa dan raga seseorang, yang berkembang secara alamiah atau pun dikondisikan dalam kondisi tertentu. Kebutuhan untuk mendapat penghargaan ini juga menjadi kebutuhan individu, yang secara psikologis berkembang pada tatanan kebutuhan untuk berinteraksi dan dihargai dalam konteks pergaulan sosial. Nah, plagiarisme menjadi sarana aktualisasi diri yang boleh dikatakan ‘tepat’ dan ‘murah meriah’, tepat manakala didukung oleh kebutuhan produsen dan konsumen, murah meriah pada saat si plagiator melakukan kegiatan ini, tanpa harus bersusah payah dalam biaya dan waktu untuk menghasilkan rumusan-rumusan populer tentang sesuatu, sehingga stigma yang muncul adalah anggapan hebat dan mumpuni terhadap dirinya. Rentetan kejadian plagiarisme ini bukan hal pertama dilakukan oleh dosen Universitas Parahyangan, dan saya berpendapat bahwa kejadian ini akan tetap berlangsung pada masa-masa mendatang. Kenapa? Karena kebutuhan dan kepentingan elemen budaya dalam plagiarisme masih sangat dominan, aktualisasi diri tersebut tetap akan ada, dan modal ketidakjujuran ini muncul sebagai proses melemahnya budaya malu di budaya Timur ini.

Plagiarisme ini menjadi eksis saat tidak ada lagi koreksi dan seleksi yang tepat serta akurat terhadap hasil karya tulis yang dihasilkan. Contohnya dalam pembuatan karya tulis tugas akhir skripsi, tidak dalam hitungan puluhan skripsi diduplikasi oleh para plagiator, dan ini selalu lolos dalam penilaian tim skripsi. Modusnya, para plagiator akan mencari skripsi dari kampus yang berbeda, bisa juga dengan daerah yang berbeda, tetapi kajian dan bahasan sama. Lebih parah lagi, ditemukan pola pikir yang sama dalam beberapa skripsi dalam satu jurusan di universitas tertentu, plagiarisme ini disahkan oleh penguji skripsi. Ini menunjukkan ketidakmampuan dan ketidakseriusan para penguji, sebagai level kedua, untuk menentukan apakah karya skripsi atau tesis tersebut orisinil atau tidak. Mungkin, wajah buram pendidikan ini akan berakhir pada saat adanya evaluasi diberbagai elemen penggerak pendidikan, yang sudah seharusnya dilakukan untuk perbaikan wajah pendidikan di Indonesia.

Popularitas gaya hidup, atau lemahnya budaya malu?

Budaya malu yang merupakan landasan dan falsafah hidup yang dianut oleh orang Timur, rupanya telah terkikis habis oleh emosional-emosional untuk bergaya. Perasaan malu untuk mempermalukan diri sendiri, malu untuk mempermalukan keluarganya, malu untuk mempermalukan lembaganya, malu untuk mempermalukan negaranya, bahkan malu kepada Tuhannya, telah aus akibat pertemuan pada ranah untuk bergaya tadi. Mungkin, orang sekaliber Idy Subandy Ibrahim, perlu mempertegas batasan-batasan untuk bergaya tersebut hanya untuk bidang busana saja, bukan untuk dunia pendidikan. Salah kaprah yang disepakati ini tidak hanya akan membunuh karakter keilmuan si plagiator itu sendiri, tetapi juga konteks sosialnya. Siswa, mahasiwa, atau pun peserta didik yang terkait juga akan merasa disakiti psikologisnya, beban malu yang disebabkan oleh hukuman sosial kepada seorang plagiator, juga berdampak pada lingkungannya. Hukuman ini tentu memiliki efek ampuh untuk membuat jera segelintir orang yang ketahuan kegiatan plagiarisme saja, dan biasanya baru muncul sinyal-sinyal untuk kewaspadaan terhadap kegiatan ini. Inilah gaya orang Timur. Bagi yang tidak ketahuan, tentu ini tetap menjadi lahan plagiarisme, lahan mata pencaharian, dan ketergantungan akan gaya hidup plagiarisme.

Dalam pandangan John Braithwaite, Crime, Shame, and Reintegration (1989) mengatakan, bahwa rasa malu pada seseorang dapat menghadirkan dua bentuk situasi. Rasa malu yang menimbulkan stigmatisasi atau disebut disintegrative shaming, terjadi dalam kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi peranan hukuman sebagai alat peredam kejahatan. Rasa malu yang menghasilkan reintegrative shaming, terjadi dalam kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi etika dan moral dalam kaitannya dengan pencegahan tindak kejahatan. Dalam buku yang sama, disebutkan pemberian malu (shaming) atau mempermalukan, khususnya bila dilakukan secara sistematis, komprehensif dan tidak final sehingga disebut dengan integrative shaming dapat dilihat sebagai salah satu bentuk penghukuman yang efektif. Berdasarkan pandangan Braithwaite ini, salah satu hukuman terberat bagi para penganut plagiarisme, adalah dengan mempermalukannya dalam konteks-konteks tertentu, sehingga diharapkan dapat memberikan efek jera kepada yang bersangkutan. Hukuman ini sekaligus menjadi alat dan perpanjangan tangan dari ‘tegasnya’ hukum pendidikan yang berlaku di Indonesia, tanpa mengurangi hak-hak si plagiator tersebut.

Kembali pada budaya malu tadi, kita perlu menggarisbawahi, bahwa budaya malu ini telah mengalami keterpurukan pada banyak ranah kehidupan di Indonesia. Penanaman etika dan budi pekerti dari pendidikan dasar hingga tingkat tinggi perlu dicermati kembali pelaksanaannya. Rusaknya budaya malu ini tidak saja membuat orang akan menghalalkan segala cara untuk kepentingannya, juga akan mengambil dan mengakui hak-hak orang lain sebagai miliknya. Pengakuan kesenian asli Indonesia oleh negara lain, menjadi koruptor, melakukan plagiarisme, contoh ini merupakan bentuk rendahnya budaya malu. Budaya malu inilah yang seharusnya menjadi landasan pikir pendidikan utama di Indonesia, sehingga lingkungan sosial, akademik, dan pemerintahan tidak lagi menjadi panggung sandiwara dan tontonan yang memalukan. Apalagi pada ranah pendidikan, lemahnya mental para pendidiknya sebagai wujud lemahnya budaya malu tadi, merupakan awal hancurnya dunia pendidikan di Indonesia. Kalau sudah seperti ini, orang akan berlomba-lomba bergaya hidup dengan landasan lemahnya budaya malu, melakukan hal-hal yang sangat memalukan. Ukuran malu inilah yang perlu dipertegas kembali, untuk membenahi budaya berpikir di Indonesia.

Bagaimana membasmi penyakit plagiarisme?

Pada perspektif gaya hidup, penyakit plagiarisme ini akan menjadi epidemi dan merebak (Kompas, 19 Februari 2010) di jagat pendidikan, sastra, kesenian, dan kebudayaan. Racun sekaligus obat untuk membasmi epidemi plagiarisme ini harus dimulai dari akarnya, sehingga tidak meninggalkan bekas-bekas yang dapat berkembang kembali. Pertanyaannya, apakah kita mau melakukan pembasmian tersebut secara bersama-sama? Maukah ketiga elemen budaya plagiarisme tersebut memutuskan mata rantai kerjasamanya? Apakah kita mau menjadi agen-agen penguji keorisinalitasan publikasi atau karya ilmiah yang dilakukan? Apakah kita mau menghentikan kegiatan plagiarisme yang telah dan biasa kita lakukan? Karena saya melihat plagiarisme ini terbagi atas: plagiarisme semu dan plagiarisme nyata. Plagiarisme nyata, kita tentu sudah tau, bahwa kegiatan ini mirip seperti tingkah laku yang dilakukan seorang pencuri, mengakui hak cipta orang lain atau lembaga tertentu, untuk kepentingan pribadi. Plagiarisme semu ini sedikit lebih sopan, bisa dikatakan sebagai ‘maling budiman’. Pada saat melakukan penjiplakan karya selalu disertakan dengan catatan tambahan karya tersebut milik siapa, kutipan-kutipan yang dilakukan, tentu tidak semuanya diijinkan oleh penulis atau penerbit, tetapi tetap dikutip, walaupun terkadang kita menyertakan sumber rujukan tersebut. Kalau mau ditelusuri, tentu akan banyak sekali maling-maling budiman yang terjaring dalam plagiarisme semu. Ini hanya sedikit beretika dari yang dilakukan oknum dosen di Universitas Parahyangan, jadi tidak perlu kita menghakiminya dengan terus-menerus.

Plagiarisme sebagai bagian gaya hidup, tentu kita akan sulit sekali untuk membasminya, selain ia telah mendarah daging dalam sistem kebudayaan, telah terstrukturisasi dengan mapan dalam pola pikir para pelaku plagiat. Gaya hidup inilah yang menjadi pondasi dan ideologi kelompok-kelompok tertentu, jika ia sudah menjadi tatanan ideologi, perlu usah keras untuk membelokkan pemikiran kelompok tersebut. Meminjam dan menurut ilmu kesehatan, untuk ibarat membersihkan penyakit kronis yang telah mendarah daging tersebut, dapat dilakukan dengan cuci darah. Fungsi dari cuci darah itu untuk pembersihan sampah-sampah secara berkesinambungan dan terjadi keseimbangan bahan-bahan penting seperti elektrolit Kalium, Natrium serta cairan. Dari rujukan ini, kita dapat melihat betapa sulitnya untuk membasmi epidemi plagiarisme dari tatanan kehidupan masyarakat sosial dan budaya, perlu tindakan yang dilakukan secara berkesinambungan. Penyadaran ketiga elemen budaya dalam plagiarisme, evaluasi atas kepentingan produsen, konsumen, dan media, harus dilakukan secara terus-menerus, sehingga dapat menghasilkan tatanan kebudayaan dan sosial yang bersih.

Pada level kehidupan akademik dan pendidikan, kewaspadaan terhadap kasus plagiat ini perlu ditingkatkan, dalam proses skripsi hendaknya masing-masing berperan maksimal. Para pembimbing skripsi dimaksimalkan fungsi kerjanya dengan dijadikan sebagai polisi kejujuran dan tukang kontrol atas tulisan yang disajikan oleh mahasiswanya, demikian dalam fungsi tugas penguji ahli dan tingkat jurusan. Ini akan meminimalkan terjadinya plagiarisme dalam karya tulis. Di level kehidupan sosial, budaya, dan kesenian, kontrol ini dilakukan oleh para pelaku yang berkecimpung dalam bidang tersebut, kontrol dalam bidang ini sebetulnya lebih mudah, daripada ranah akademik dan pendidikan. Karena hampir semua lini kehidupan sosial dan budaya menjadi pengawas dan evaluator terhadap karya-karya diciptakan.

BACAAN:

Schultz, D., Psikologi Pertumbuhan: Model-Model Kepribadian Sehat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991.

Ibrahim, Idi Subandy, (Ed). Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarkat Indonesia.Yogyakarta: Jalasutra, 2005.


Ibrahim, Idi Subandy. Budaya Populer sebagai Komunikasi: Dinamika Popscape dan Mediascape di Indonesia Kontemporer. Yogyakarta: Jalasutra, 2007.


Braithwaite, J. Crime, Shame and Reintegration. Cambridge: Cambridge University Press, 1989.

*) Penulis adalah dosen Universitas Negeri Semarang, Mahasiswa S-3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.

Monday, January 3, 2011

Menggunakan kreativiti boleh mendapat keuntungan besar

Pengasas Facebook bernilai RM43b

LOS ANGELES: Facebook menarik pelaburan sebanyak AS$500 juta (RM1.5 bilion) dalam perjanjian yang meningkatkan nilai syarikat berkenaan menjadi AS$50 bilion (RM155 bilion), sekali gus menjadikan pengasasnya, Mark Zuckerber kini bernilai hampir AS$14 bilion (RM43.4 bilion).

Goldman Sachs semalam melabur AS$450 juta (RM1.4 bilion) sementara syarikat pelaburan Russia, Digital Sky Technologies melabur AS$50 juta (RM155 juta), lapor akhbar New York Times.


Pengaliran tunai baru itu akan membolehkan Facebook menarik dan mengekalkan kakitangan dan membangunkan lebih banyak produk.

Menurut akhbar itu, Goldman merancang mewujudkan syarikat khas untuk membolehkan pelanggannya melabur dalam Facebook.


Dengan bernilai AS$50 bilion (RM155 bilion), ia akan meningkatkan nilai Facebook lebih tinggi berbanding TYahoo, eBay dan Time Warner. - Agensi

Friday, December 31, 2010

SELAMAT MENYAMBUT TAHUN 2011
SEMOGA SEGALA USAHA DAN PENGORBANAN AKAN DITERUSKAN...

Thursday, December 16, 2010

Pengalaman mengajar Pendidikan Seni Visual SK Rendah

Saya tertarik sebuah artikal ini (dalam bahasa Inggeris) mengenai pengalaman seorang guru mengajar Pendidikan seni Visual sekolah rendah dengan pendekatan DBAE dengan berpusatkan kepada strategi Inquari. Guru ini memahami konsep Holestik dan Emosi dalam menggendalikan P&P pendidikan Seni Visual dengan menggunakan bahan dari Internet. Pendekatan ini perlu kita bawa dalam persekolahan kita di negara ini. Sila Baca artikaal dibawah:

An Approach To Disc. Based. Art. Ed.

Jo Murphy

What does Discipline Based Art Education mean? Has the notion changed over the years? Read on and I will try to tease out some ideas and issues about the way we learn art.

Big

At the moment I teach Grade One (5 years) until Grade Seven. (12 years) I have the luxury of taking the kids from their first experiences of Primary School and nurturing their talent until they leave. I take a wholistic developmental approach to artistic and emotional education.

To me 'Discipline Based' means coming from a place of security, clarity and knowing. Inquiry based learning and the new approaches to Life Long Learning mean that we as Art Teachers have the desire to encourage the children to be self-sufficient/self-directed learners. Theories of Emotional Intelligence tells us to aim for calm, relaxed children who feel confident and secure. It is hoped that with guidance the students feel able to take risks and to learn fromseeming failures.

I encourage the kids to learn how to find their own information, ideas and instruction both online and off. I do this from the moment they come to me in First Grade. I also teach the children after school in smaller groups. In the library they have acess to a networked computer each. They start by learning how to navigate web search. They use Google and Google Image search.

Younger children get excited about learning to draw from the visual instructions provided by Neopets.com

They are able to

  • open the internet browser
  • type www.Neopets.com into the address bar
  • click on Pet Central
  • cruise the pictures
  • use the 'back' arrow

This is sufficient for them to be able to be self-starters in the class room.

I provide them with

  • paper,
  • pencil,
  • eraser,
  • and sharpener
  • paint
  • coloured pencils
  • brushes
  • rags
  • containers for water
  • oil pastels
They begin drawing to their hearts content. I am freed up to go around and teach them drawing personally - one by one.

This is great. They are happy and the stress is off me. The kids are taught from the very beginning about looking for shapes in all of the objects and subject matter that they want to draw. So they know to

  • Look for the basic shapes
  • draw from the biggest shape first
  • place the shapes next to each other in proportion
  • firm up the lines when they think they have the placement correct
  • use colour pencils to fill in and capture the rendering of the subject
  • They are taught from the very beginning that
    1. the bigger the image is, the easier it will be to draw, because they can have more space within which to shade, achieve texture, and use pencils expressivly
    2. they come to an understanding that "what goes back in space getts darker"
    3. and "what goes back in space gets smaller"
  • Once they have coloured the animal or subject matter they are encouraged to rescue the outlines with felt-tipped pens, or paint. (The back ground is often quite abstract, it can be painted or collaged. They could instead use oil pastels. Any medium that is quick and easy is best as younger kids can't sustain interest for too long at a time. If they put the work into the subject matter intitially, a quick easy and higly visually pleasing background compliments the picture just fine!

The copyright of the article An Approach To Disc. Based. Art. Ed. in Art Education is owned by Jo Murphy. Permission to republish An Approach To Disc. Based. Art. Ed. in print or online must be granted by the author in writing.

Program Untuk membuat lakaran menggunakan perisian komputer


Autodesk SketchBook Pro

Sunday, December 12, 2010

Transformasi Kurikulum Pendidikan Seni Visual


Sehingga penulis menulis persoalan ini Bahagian Kurikulum sedang berhempas pulas membuat persediaan merangka dan bermesyuarat dengan panel yang dipilih bagi mentejemahkan kerangka standard kurikulum semakan semula Pendidikan seni Visual sekolah menengah. sekarang ini kurikulum tingkat satu hampir selesai dilaksanakan.

Saya tertarik kenyataan bekas Ketua Pengarah Pelajaran Malaysia Datuk Alimuddin Mohad Dom (Utusan 12 Jun 2008) menyatakan, ''Kami akan buat perubahan dari segi kandungan kurikulum supaya ia menjadi lebih menarik dan seronok serta tidak membebankan pelajar. Kita nak wujudkan konsep 'pelajar berlari ke sekolah dan berjalan pulang ke rumah' sebagai menunjukkan betapa mereka seronok dan teruja untuk menimba ilmu di sekolah,'' . Justru, Kementerian Pelajaran akan melaksanakan transformasi sistem pendidikan bermula 2010 bagi meningkatkan kualiti akademik, kokurikulum dan pembangunan sahsiah murid.

Kenyataan ini merupakan suatu keperluan dalam pembinaan kurikulum Pendidikan Seni Visual (PSV) harus menepati kehendak transformasi yang dikatakan itu. Bagi saya perkataan 'transformasi' itu biar benar-benar tertonjol dalam kurikulum yang akan dibina.

Dalam Pendidikan Seni Visual beberapa tokoh telah mengutarakan pandangan bahawa, pembelajaran pendidikan seni visual tidak akan terkeluar dalam lingkungan untuk mengasah bakat kreativiti melalui penajaman intuisi dan mengembangkan daya kemahiran dalam penciptaan yang ivovatif.

Ditinjau matlamat PSV ialah untuk membentuk keperibadian generasi Malaysia yang celik budaya, mempunyai nilai-nilai estetika yang tinggi, imaginatif, kritis, inovatif dan inventif. Oleh yang demikian fokus dalam kandungan kurikulum juga harus menju kearah itu. Dalam dunia yang penuh persaingan ini PSV juga harus merenung keperluan masa depan generasi yang terdidik dalam PSV iaitu peluang kerjaya mereka. Oleh yang demikian persoalannya adalah kurikulum itu dapat menepati kehadiran kandungan itu benar-benar memenuhi kehendak masa depan yang dikatakan 'trasformasi'?.

Ditinjau dalam keadaan semasa, keperluan Seni Visual lebih menjurus kepada 'mencipta' sesuatu keperlua manusia kini. Adalah baik penumpuan kurikulum yang berbentuk trasformasi ini mengwujudkan proses 'pencipta kreatif' misalnya mencipta model-model alat keperluan harian, kereta dan lain-lain. Disamping itu keperluan Komunikasi Visual juga merupakan sangat-sangat menjadi keperluan kini melalui media-media digital yang semakin 'deras' perkembangannya. Oleh itu penjurusan penciptaan melalui aktiviti-aktiviti dalam P&P PSV perlu ditekankan disamping mengekalkan persoalan estetik, artistik dalam seni tersebut.

Suatu yang amat penting ialah, pembelajaran harus berlaku melalui interaksi 3 penjuru (salaing melangkapi) dalam Seni Visual iaitu Asas seni reka (Bahasa Seni), penghasilan produk dan apresiasi & Kritikan. Sebenarnya dalam sesuatu pembelajaran PSV 3 perkara harus berlaku dalam P&P. Kerana itu Feldman telah menyatakan melalui modelnya dalam DBAE bahawa kurikulum Seni harus berlandaskan empat eleman utama iaitu: Produk seni, Estetik, Apresiasi dan Kritikan.

Namun, dalam sesuatu aktiviti pembelajaran PSV juga harus menepati kreteria dalam pentafsiran yang mana perlu berubah dari apa yang ada sekarang. Kebanyakan guru-guru membuat pentafsiran PSV melalui pendekatan soalan anika pilihan (objektif) sahaja. sepatutnya penilaian haruslah berlaku melalui pemerhatian, lisan dan bertulis melalui kerja kursus berasaskan sekolah. Harus diingat, pada masa kini P&P PSV tingkatan 1 hingga 4 telah meninggalkan perkara penting dalam proses penghasilan iaitu Portfolio. Saya secara peribadi sangat menyokong kenyataan bekas ketua pengarah pelajaran yang menyatakan, kurikulum trasformasi ini juga akan melibatkan kepada sistem penilaian supaya tidak hanya berasaskan peperiksaan, menurutnyalagi sistem penialaian baru itu, prestasi para pelajar akan dinilai sejak mereka berada ddi tahun satu lagi.

Wednesday, December 8, 2010

Upin & Ipin boleh kejar Doraemon!


Saya terterik dengan perkembangan Industri kreatif yang berkembang dinegara ini. Antara yang paling menonjol ialah bidang animasi. Penonjolan animasi Upin dan Ipin membawa makna baru dalam industri kreatif di negara ini. Keratan artikal dalam Metro pada 8 Disember 2010 membuat suatu cadangan dan kritikan yang membina bagi memajukan industri ini.

Tajuk: Upin & Ipin boleh kejar Doraemon!
Oleh: Rosli Fadzil
Metro 8 Dis 2010 (Rabu)

KITA sudahpun berada dalam bulan 12. Tak sampai sebulan, akan muncul pula 2011. Ketika inilah ramai yang hendak bersantai kerana musim cuti penggal bagi sekolah. Bagi yang suka berjimat, akan melancong dalam negara dan bagi yang ada duit lebih, akan terbang melintas benua.

Kalau nak bawa anak tengok wayang pun, kena intai juga filem yang sesuai. Kita memang ada Ngangkung yang sedang meletup ketika ini tetapi ia lebih menjurus kepada penonton dewasa dan dilabelkan PG13, bermakna perlu pengawasan ibu bapa atau penjaga.


Kita juga ada Harry Potter tapi saya lihat Daniel Radcliffe dan geng Hogwartsnya pun dah makin besar panjang. Malah ada babak Radcliffe dapat lesen untuk tanggal baju, seluar dan hanya tinggal 'boxer'. Apa nak dihairankan kerana aktor comel itu dah berbogel dalam teater Equus dengan cerita budak lelaki bernafsu pelik. Jadi setakat buka baju, saya kira ia benda 'kacang' buat Radcliffe.

Sekarang juga sekuel terbaru bagi The Chronicles of Narnia sedang ditayangkan. Saya tak berani cakap lebih sebab belum tonton lagi. Dalam sehari dua ini akan tengoklah nanti. Mungkin cerita pengembaraan begini sesuai untuk semua lapisan usia.

Apa yang ingin saya cakap di sini, filem yang sering dihasilkan di negara kita memang lebih disasarkan untuk golongan dewasa kerana merekalah golongan yang ada 'power purchase', boleh berfikir dengan matang dan mampu mencerna mesej.


Cuma tidak salah kalau kita perbanyakkan lagi filem yang boleh ditonton seisi keluarga yang kisahnya menceritakan mengenai suka-duka, keberanian, kenakalan mahupun kebijaksanaan kanak-kanak dan remaja.


Lalu dalam konteks ini, filem seperti Aku Tak Bodoh lakonan Amy Mastura dan bintang remaja baru, Ariel Zafrel boleh dicadangkan sebagai filem yang sesuai untuk tontonan keluarga selain animasi Rapunzel The Tangled Tale dan Megamind dari Hollywood.

Sebenarnya, saya memuji usaha MIG yang pernah cuba menerbitkan filem seperti Tentang Bulan, Syurga Cinta dan Brainscan. Ia dapat menonjolkan lagi bakat terpendam di kalangan kanak-kanak. Begitu juga Syurga Cinta lakonan Adik Hadziq yang menang anugerah dalam Festival Filem Malaysia.

Paling terbaru, filem Magika yang menyerlahkan lagi bakat Fimie Don. Magika adalah langkah positif dan kreatif ke arah filem bercorak hiburan untuk semua lapisan usia walaupun saya rasa langkah pertama Edry itu boleh diperbaiki lagi selepas kejayaan abangnya, Yusry melalui Cicak-Man.


Saya sebenarnya masih menunggu filem animasi Upin & Ipin yang terbaru daripada Les Copaque. Saya sedar bukan kerja mudah untuk buat karya animasi yang bermutu kerana ia kerja remeh dan perlukan ketelitian.

Bagi saya Upin & Ipin mula mencipta magika, malah sedang menjadi kegilaan hingga ke Indonesia. Kalau pengaruh Upin & Ipin tidak kuat, masakan band popular Indon, Padi merakamkan lagu Sahabat Selamanya buat mereka. Tengoklah sendiri videonya di YouTube.

Saya melihat dua karakter dan maskot kartun Melayu itu boleh pergi sangat jauh. Kita jangan cakap lagi mengenai Hollywood tetapi kalau setakat Doraemon dari Jepun, kita boleh kejar bila-bila masa kalau kita ligatkan lagi promosi Upin & Ipin.


Malah saya dapat membayangkan apabila pesawat mendarat di KLIA atau mana-mana lapangan terbang antarabangsa kita, wajah Upin & Ipin tersenyum riang di papan billboard dan menyapa: 'Selamat Datang atau Welcome to Malaysia!' atau mungkin juga mengucapkan: 'Selamat Jalan, Ta Ta atau Bon Voyage!' Mesti comel dan 'molek sokmo' bukan? Bagi saya kalau menggunakan karakter kartun, ia lebih selamat berbanding wajah manusia yang kadangkala terjebak dengan kontroversi dan skandal.

Dalam hal ini, syarikat penerbangan seperti AirAsia boleh juga membantu Upin & Ipin dengan meletakkan wajah mereka pada pesawat yang terbang ke destinasi antarabangsa kerana ia dapat memberikan impak yang hebat dan pantas. Percayalah.


Bagi menyokong misi ini, Kementerian Pelancongan dan badan berkaitan harus lebih proaktif agar kita dapat menonjolkan identiti Malaysia melalui karakter yang sedia komersial dan punya potensi besar bagi menaikkan nama Malaysia. Kalau kita sendiri tidak buat, siapa lagi?


Sunday, September 5, 2010

Berkarya jangan bercanggah hukum Islam

Lama sudah saya tidak menulis dalam blog ini. Kesibukan tugas harian memberi kekangan masa untuk saya berkongsi dalam penulisan blog ini. Beberapa pengunjung telah menghubungi saya bertanyakan tentang penulisan saya dalam blog ini. Terima kasih kepada pengunjung setia itu.

Dalam bulan Ramadhan ini saya ingin memberi sedikit pendapat mengenai tugas 'designer' muslim. iaitu tugas dan peranannya dalam membuat reka bentuk seni visual. Saya pernah menulis mengenai Hukum dalam Seni Islam dalam blog ini.

Melihat situasi terkini, nampaknya ramai 'designer' muslim kurang memberi manfaat terhadap tanggungjawab sebagai seorang muslim. Kutipan dari pesan Al-Faruqi tentang konsep kesenian adalah mentauhid ddan pengabdian kepada Allah. Menurutnya seni harus bermatlamat kepada perkara-perkara kebaikan dan berakhlak . Tauhid adalah menjadi paksi kepada segala-galanya. sementara Al-Ghazali juga menyatakan aktiviti seni harus lah bersifat mengabdikan diri kepada Allah. Sementara itu Ibu Khaldum pula menegasakan seni yang dihasilkan perlulah berasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan.


Berdasarkan paparan video di atas kita merasakan sangat malang sekali sebuah karya yang baik tidak menepati kehendak nilai Islam. Persoalan kandungan video itu adalah untuk mempamerkan situasi aktiviti Bulan Syawal yang meriah, namun terdapat unsur khurafat dan bercanggah dari segi agama. Karya ini lebih bersifat menyamakan perayaan suci Islam (Syawal) dengan perayaan kristian, Hindu dan Budha. unsur-unsur dan simbol yang dibawa tidak mendekati kepada Islam.

Ini satu contoh bahawa peranan seniman sangat besar dalam menentukan tanggungjawap sosial dan tangungjawab sebagai seorang muslim.
Wallahualam.

Thursday, June 24, 2010

Ilustrasi Figuratif dan Lukisan Konsep Oleh Boris





Kali ini saya mengemukakan karya seni visual ilustrasi figuratif dan ilustrasi konsep yang muncul sebagai karya seni visual untuk hiasan kulit buku, majalah dan ilustrasi untuk watak filem. Perkembangan lukisan ilustrasi telah berkembang sekian lama apabila revolusi perusahaan dieropah memerlukan banyak produk sebagai bahan ilustrasi.

Saya mula mengenali ilustrasi figuratif ini apabila saya mula mengahsilkan komik sekitar tahun 1980-an. Pada ketika itu komik-komik Conan, Vimpire dan beberapa komik lain yang muncul dengan reka bentuk ilustrasi ‘cover’ yang sungguh hebat gaya pelukisan. Antara pelukis yang saya sungguh minati ialah Boris Vallejo.

Boris mula melukis pada usia tiga belas tahun dan menjadi pelukis ilustrasi sepenuh masa ketika berumur enam belas tahun. Beliau lahir di Peru dan berhijrah ke Amerika Syarikat sekitar tahun 1964.

Dilihat pada karya-karya ilustrasinya beliau amat gemar melukis suasana alam fantasi dan lukiusan erotik. Gaya lukisannya lebih kepada hiper realis. Beliau melukis menggunakan model kemudian diubah dalam suasana yang lebih dramatik dan diadun dengan perwarnaannya yang tersendiri. Kini beliau banyak menggunakan media digital sebagai gabungan dalam penghasilan karyanya.

Antara ciptaan ilustrasi nya yang terkenal ialah Tarzan , Conan The Barbar , Doc Savage dan fantasi pelbagai watak lain (sering dilakukan untuk karya novel fiksyen yang memaparkan watak). Karya beliau juga dijadikan kalendar tahunan dan ilustrasi buku.

Antara ciptaan poster poster wayang untuk fantasi dan pengeluaran tindakan, termasuk Barbarella (1968), Knightriders (1981), Q (1982), dan Ratu Barbar (1985) dan banyak lagi.

Wednesday, June 23, 2010

Persoalan Global Art

Saya tertarik membaca artikal ini yang dihasilkan oleh Jim Supangkat melalui Art News Indonesia. Persoalan kini yang dibincang hangat mengenai Global Art yang dikaitkan dengan Seni Kontenprori. Penulisan ini saya terus petik tanpa pindaan untuk bacaan kita.


Discoursing Contemporaneity
oleh Jim Supangkat
Lukisan Awi Ibanesta, seniman otodidak asal Wonosobo, Jawa Tengah. Karya ini sekadar dipajang sebagai "foto", bukan untuk menjelaskan atau menderivasikan gagasan dalam artikel di bawah ini. (foto: kuss indarto)
SEJARAWAN seni rupa terkemuka Hans Belting melihat global contemporary art sebagai “global art” yang harus dibedakan dari “world art”. Bagi Hans Belting pengertian world art mencerminkan pemahaman modernisme yang hegemonik. (1)

Dalam pembacaan saya pengertian world art berpangkal pada pemikiran modern tentang realitas dalam lingkup universal. World art adalah Western art yang di-claim berlaku di seluruh dunia setelah dikukuhkan sebagai modern art. Asumsi ini berhenti pada claim karena tidak menjadi universal reality. Tidak pernah dikaji bagaimana modernisme mengalami translasi dan transformasi di luar Eropa dan Amerika Serikat dan menjadi modernisme yang berbeda. Kendati modern art yang bertumpu pada modernisme dikenal juga di seluruh dunia tidak bisa dipastikan apakah modernisme—a complicated discourse—sesungguhnya dipahami dan kemudian dianut di luar Eropa, Amerika.

Global art, menurut Hans Belting sama sekali bukan tanda-tanda munculnya kenyataan yang diprediksi unversalisme. Global art muncul karena sebab-sebab ekonomi. Perkembangannya di art market tidak peduli pada keseragaman yang diyakini universalisme. Bisnis membuatglobal contemporary art mempedulikan kekuatan lokal demi bisnis (memperhitungkan persepsi publik, persepsi kolektor dan seniman) dan kemudian merayakan perbedaan. Karena itu globalisme, kata Hans Belting, adalah anti-thesis universalisme. (2)

Dalam pembacaan saya gagasan Hans Belting membedakan “world art” dan “global art” bukan hanya membedakan modern art dan contemporary art. Pembedaan ini meliputi pula pembedaan “contemporary art“ dengan “global contemporary art”. Bila dibaca lengkap “contemporary art” tidak lain adalah “world contemporary art”. Dalam sudut pandang ini “world contemporary art” adalah kelanjutan “world modern art” sekalipun dalam banyak pandangan hubungan ini disangkal karena contemporary art disebut-sebut berada padaplatform baru yang sama sekali lain.

Maka “world contemporary art” mengandung pengertian hegemonik juga. Tandanya yang sampai sekarang diyakini adalah perubahan besar dari seni rupa modernis ke seni rupa post-modernis. Seperti modernisme tanda ini (perubahan dari seni rupa modernis ke seni rupa post modernis) tidak bisa dipastikan apakah dipahami sepenuhnya di luar Eropa dan Amerika Serikat.

Melihat world contemporary art sebagai kontinuitas world modern art membangkitkan kesadaran bahwa world contemporary art kembali berhenti pada claim dan tidak menjadi kenyataan. Model contemporary art yang berkembang di Eropa, Amerika Serikat tidak bisa ditemukan di luar Eropa, Amerika Serikat. Kemungkinannya, contemporary art di luar Eropa, Amerika Serikat, ada tapi tidak sepenuhnya dipahami, atau ada sebagai copy yang tidak bermakna. Di sini, pengertian global contemporary art menjadi berarti. Pertanyaan “what is contemporary art ” harus diubah menjadi “what is global contemporary art ” Hans Belting mengemukakan pertanyaan ini akan menyuruk ke pertanyaan mendasar dan terbuka untuk berbagai kemungkinan yaitu “what is art in global sense.” (3)

Buku Terry Smith, What is Contemporary Art? Mungkin buku paling komprehensif dalam menguraikan tanda-tanda perkembangan seni rupa kontemporer pada dekade 1990 dan dekade awal 2000. Buku ini memasukkan kajian art market dalam tegangan global-local,membahas sejarah seni rupa dan perkembangan museum dalam pertentangan modern-contemporary, dan, benturan arus perkembangan Utara-Selatan dalam kajian post-colonial.Dalam pengamatan saya contemporary art dalam buku ini dibahas baik sebagai world contemporary art maupun sebagai global contemporary art.

Saya melihat ruang antara (space in between) yang terletak di antara world contemporary artdan global contemporary art pada kajian Terry Smith. Ruang antara ini tercermin pada pembahasan contemporaneity yang disebut, “[...] the most evident attribute of the current world picture [...]”. Terry Smith menulis,

Within contemporaneity, it seem to me, at least three sets of forces contend, turning each other incessantly. The first is globalization itself, above all, its thrists for hegemony in the face of increasing cultural differentiation (the multeity that was realesed by decolonization), for control of time in the face of the proliferation of asynchronous temporalities, and for continuing exploitation of natural and (to a degree not yet seen) visual resources against the increasing evidence of the inability of those resources to sustain this exploitation. Secondly, the inequity among peoples, classes, and individuals is now so accelerated that it threatens both the desires for dominations entertained by states, ideologies, and religious and the persistent dreams of liberation that continue to inspire individuals and peoples. Thirdly, we are all williynilly immersed in a infoscope—or better, a spectacle, an image economy or a regime of representations—capable of the instant and thoroughly mediated communication of all information and any image anywhere. (4)

Dari pandangan itu saya tertarik khususnya pada penghubungan contemporaneity dengan tegangan (tensions) di antara globalization yang membawa tanda-tanda hegemony denganmulteity that was realesed by decolonization. Tegangan ini menunjukkan pertarungan image global contemporary art yang sekarang ini terjadi. Pertarungan image ini berpangkal pada pertanyaan: apakah global contemporary art memunculkan keseragaman atau justru keragaman.

Keyakinan yang melihat global contemporary art memunculkan keseragaman melihat global contemporary art berdasarkan faktor spatial dengan menekankan the present. Di sini global contemporary art mempunyai makna yang tetap dan pasti karena tidak dipengaruhi faktor temporal yang membuat makna menjadi tidak tetap dan cenderung terus berubah. Keyakinan ini bahkan cenderung memutuskan the present dari sejarah (selain dipengaruhi faktor spatial dan temporal, sesuatu makna selalu dipengaruhi sejarah pengertiannya). Ini tercemin pada upaya meninggalkan predikat “contemporary” dan menggantinya dengan predikat “now” yang mencerminkan penekanan the present. Maka muncul kemudian istilah-ilstiah global art nowdan art now yang sekarang semakin banyak digunakan. Saya rasa gejala ini ada hubungannya juga dengan kecederungan art market—yang dominan pada dekade awal 2000—untuk meminggirkan contemporary art discourses.

Pada arus baru yang percaya pada keseragaman itu tidak ada masalah dengan pengertiancontemporaneity yaitu the quality of belonging the same period of time,” dan “the quality of being current or of the present.” (5)

Bagi saya, pengertian contemporaneity di sebaliknya mengandung masalah karena saya percaya bahwa gobal contemporary art justru memunculkan keragaman dan keragaman inilah yang membedakannya dari world contemporary art. Karena itu saya cenderung “membuka” pembahasan contemporaneity dan menempatkannya pada tingkat mediasi—discoursing contemporaneity—untuk menjelajahi persoalan multeity.

Pada perkembangan seni rupa kontemporer upaya menampilkan multeity itu dilakukan Jean-Hubert Martin melalui pameran menghebohkan, Les Magiciens de la Terre di Pusat Kebudayaan Pompidou, Paris pada tahun 1989. Pada pameran ini Jean-Hubert Martin mendampingkan karya-karya seni rupa kontemporer dengan karya-karya seni rupa tradisional antara lain instalasi tanah pendeta-pendeta Tibet, dan, lukisan perempuan-perempuan Uttar Pradesh, India yang menggunakan bidang lukisan menyerupai kanvas.

Pameran itu memunculkan kontroversi panjang dan dibahas selama bertahun-tahun di foracontemporary art. Pada kontroversi ini Jean-Hubert Martin diserang dunia seni rupa di Prancis dan di dunia. Sesudah itu percobaan Jean-Hubert Martin tidak berlanjut pada perkembangan seni rupa kontermporer.

Gejala itu menunjukkan cara paling umum memahami multeity dan membuatcontemporaneity yang terpusat pada pertanyaan sama-tidaknya seni rupa kontemporer dengan “seni rupa kontemporer” etnik menjadi tidak bisa dibahas. Masalahnya terletak pada pada kata “quality” pada pengertian umum contemporaneity, “Dalam contemporary art discourses “quality” ini bertumpu pada art in Western sense yang tentunya tidak bisa disamakan dengan ”quality” yang bertumpu pada ethnic art sensibilities. Di sini pembahasan contemporaneity menghadapi kebuntuan karena tidak ada platform untuk membahas secara simultan art in Western sense dan art in ethnic sensibilities yang kajiannya terkurung dalam lingkup etnologi dan antropologi dari zaman kolonial sampai sekarang. (6) Dilema ini tidak bisa dilepaskan dari modern thinking sensibilities di mana commensurability yang mendasari semua pemikiran modern mengalami benturan dengan incommensurability thesis yang dipegang para etnolog dan antropolog.

Pada perkembangan seni rupa modern pertanyaan, “apakah art in ethnic sensibilities bisa disamakan dengan art in Western sense” bisa dengan tegas dijawab, “tidak” karena dalam modernisme modernitas diyakini adalah kontradiksi tradisionalitas. Pada perkembangan seni rupa kontemporer yang menentang modernisme, pertanyaan ini seharusnya mencari jawaban yang berbeda. Namun pada kenyataannya, pertanyaan ini tidak bisa dijawab.

Gejala ini menunjukkan masih berpengaruhnya visi modern bahkan visi kolonial dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Karena itu saya cenderung tidak mencoba menjawab pertanyaan “apakah art in ethnical sensibilities bisa disamakan dengan art in Western sense”.Saya justru mempertanyakan mengapa pembahasan contemporaneity pada global contemporary art harus kembali ke pertanyaan ini?

Kendati saya tidak meninggalkan persoalan art in ethnic sensibilities saya meninggalkan upaya membanding-bandingkannya dengan art in Western sense. Saya cenderung mencari jalan memutar dengan membandingkan perkembangan contemporary art, inside dan outside Eropa dan Amerika Serikat. Contemporary art adalah wilayah di mana perbandingan ini bisa dilakukan untuk menemukan baik kebedaan mau pun kesamaan. Di wilayah seni rupa modern tidak ada ruang untuk perbandingan ini.

Perbandingan itu tidak berhenti pada the present. Perbandingan ini melibatkan pengkajian sejarah bagaimana contemporary art muncul, inside dan outside Eropa, Amerika Serikat. Kemudian lebih jauh melihat kembali perkembangan seni rupa sebelum kemunculan seni rupa kontemporer. Di sini mundur lebih ke belakang lagi ke pencarian tanda-tanda pada Abad ke 19 di mana modern thinking sensibilties dan visi kolonial berpangkal. Pada Abad ke 19 bisa ditemukan pula, pangkal adaptasi pemikiran modern di luar Eropa, Amerika Serikat, dan bagaimana pemikiran ini diterjemahkan dan mengalami transformasi. Termasuk di sini adaptasi dan penerjemahan art in Western sense.

Dari perbandingan itu bisa ditemukan kebedaan maupun kesamaan perkembangan seni rupa sejak Abad ke 19. Dari perbandingan ini akan terlihat bahwa di luar Eropa dan Amerika Serikat berkembang seni rupa modern yang lain di mana tidak ada kesadaran memisahkan modern art sensibilities dengan ethnic art sensibilities yang menandakan penolakan kontradikisi modernitas dan tradisionalitas. Karena itu pengaruh ethnic art sensibilities bisa ditemukan. Akan terlihat pula bahwa perbedaan modern art dan contemporary art ternyata tidak tajam. Kehadiran ethnic art sensibilities pada seni rupa kontemporer merupakan kelanjutan perkembangan sebelumnya dan bukan karena “reaksi” pada pertentangan modernisme dan pemikiran-pemikiran postmodern.

Tanda-tanda itu menunjukkan pada perkembangan seni rupa kontemporer di luar Eropa, Amerika Serikat pertanyaan, sama-tidaknya seni rupa kontemporer dengan “seni rupa kontemporer” etnik bukan pertanyaan yang dilematis dan bisa menghasilkan jawaban yang masuk akal. Uraian pada jawaban ini akan menunjukkan kedudukan ethnic art sensibilitiespada seni rupa kontemporer yang lepas dari modernisme dan visi kolonial. Uraian ini bisa digunakan juga untuk mengkaji keragaman pada seni rupa kontemporer dan mempersoalkanmulteity pada global contemporary art.

Catatan kaki:

(1)
“Contemporary Art as Global Art, A Critical Estimate,” Hans Belting. Dalam The Global Art World. Audiences, Markets and Museums. Hans Belting, Andrea Buddensieg (ed.). Hatje Cantz. Ostfinden. 2009. pp. 38-73.
(2) Ibid.
(3) Keynote speech seminar, “A New Geography of Art in the Making” yang diselenggarakan Center for Art and Media, Karlsruhe bersama Göethe Institute di Hongkong 21- 22 Mei, 2009.
(4) What is Contemporary Art? Terry Smith. University of Chicago. Chicago-London.2009. pp. 5-6
(5) Wikipedia.
(6) Gejala ini bisa dilihat pada tulisan Denis Dutton, “But They Don’t Have Our Concept of Art”. Dalam Theoreis of Art Today. Noël Caroll. (ed). The University of Wisconsin Press. London. 2000. pp.217-238
*) Ketua Tim Juri Indonesia Art Award (IAA) 2010

Tuesday, June 22, 2010

Perisian terbaru untuk pereka industri dan grafik

Kini pereka dapat menikmati perisian terbaru untuk menghasilkan rekaa bentuk industri dan grafik. Autodesk telah menerbitkan Alias Sketch 2011, paint hibrida dan perisian ilustrasi vektor yang disasarkan kepada pereka industri dan sedia untuk PC dan Mac. Di antara ciri-ciri adalah plug-in untuk integrasi dengan AutoCAD. Autodesk Alias Sketsa 2011 adalah sebuah perisian ilustrasi yang menggabungkan format raster dan vektor. Hal ini bertujuan untuk menawarkan desainer grafik dan industri cara yang efektif untuk menyajikan dan mengkomunikasikan produk dan konsep grafik. Alias Sketch 2011 bukan sahaja mudah diaplikasikan malah kerja-kerja awal bermula dari lakaran hingga peringkat mewarna dan lepaan juga boleh dihasilkan. Lihat video demontrasi dibawah:


Sunday, June 20, 2010

melahirkan murid invotif asas jadi generasi holistik

Matlamat pembelajaran bukan lulus cemerlang
Berita Harian 2010/06/21



ISU mengenai kedudukan Ujian Pencapaian Sekolah Rendah (UPSR) dan Penilaian Menengah Rendah (PMR) timbul semula apabila Timbalan Perdana Menteri merangkap Menteri Pelajaran, Tan Sri Muhyiddin Yassin semalam membayangkan kemungkinan dua peperiksaan itu dimansuhkan. Beliau melihat ada kewajaran pemansuhan itu kerana aspek pembelajaran ketika ini lebih berorientasikan kepada peperiksaan sehingga tujuan utama untuk memberikan pendidikan holistik tidak dapat dilakukan sepenuhnya.

“Kami sedang fikirkan sama ada akan kekalkan atau perlu hanya satu peperiksaan awam, seperti di peringkat SPM saja,” katanya ketika ditemui pemberita selepas merasmikan Mesyuarat Perwakilan Umno Bahagian Pagoh, semalam. Cadangan terhadap pemansuhan UPSR dan PMR ini bukan perkara baru, sebaliknya sentiasa timbul apabila ada perbincangan mengenai keberkesanan sistem pendidikan kebangsaan dalam melahirkan generasi cemerlang. Satu daripada cadangan ialah menggantikan UPSR dan PMR dengan Sistem Penilaian Pendidikan Kebangsaan (NEAS).

Pada Mei 2007, Menteri Pelajaran ketika itu, Datuk Seri Hishammuddin Hussein bagaimanapun dilaporkan berkata, masih terlalu awal untuk membuat ketetapan terhadap cadangan memansuhkan dua peperiksaan itu. Kementerian Pelajaran, katanya, masih lagi dalam proses menilai pilihan terbaik jika mahu berbuat demikian.

“Salah satu cara ialah membandingkan sistem pendidikan kita dengan negara jiran sebelum memansuhkan peperiksaan ini,” katanya sambil menambah, perbincangan peringkat demi peringkat dilakukan sebelum kerajaan memutuskan untuk memansuhkan peperiksaan berkenaan.

Pada Julai tahun lalu, Naib Ketua Pemuda Umno, Datuk Razali Ibrahim menyarankan UPSR dimansuhkan kerana ia hanya menjurus kepada konsep pencapaian pendidikan menerusi peperiksaan yang memerlukan pelajar lulus subjek tertentu untuk layak ke sekolah berasrama penuh.

Cadangannya itu turut mendapat sokongan Pro Canselor Universiti Pendidikan Sultan Idris, Tan Sri Dr Abdul Rahman Arshad, yang percaya langkah itu dapat mengelak murid kurang kebolehan terus tertinggal jika peperiksaan setara pada peringkat pusat diteruskan.
Muhyiddin semalam pula berkata, jika peperiksaan UPSR dan PMR diteruskan, ia hanya sebagai penilaian pencapaian pelajar pada peringkat sekolah, bukannya sebagai peperiksaan awam. Secara peribadi beliau berpendapat perlu ada satu peperiksaan awam saja bagi menilai pencapaian pelajar, iaitu pada peringkat akhir persekolahan atau sebelum memasuki institusi pengajian tinggi.

Muhyiddin memberi jaminan Kementerian Pelajaran tidak akan gopoh dalam membuat keputusan dan sentiasa mengalu-alukan pandangan semua pihak mengenai perkara itu.

Isu mengenai pendidikan sentiasa dekat di hati rakyat bukan semata-mata ia secara langsung membabitkan mereka, tetapi kerana sistem pendidikan yang bakal menentukan masa depan negara. Sama ada bersetuju atau tidak UPSR dan PMR dimansuhkan, perkara yang kita harus akui masyarakat hari ini berusaha sedaya upaya untuk memastikan anak lulus cemerlang dalam kedua-dua peperiksaan itu.

Jika dulu calon peperiksaan hanya menghadiri kelas tambahan yang disediakan sekolah beberapa minggu menjelang peperiksaan, kini sudah menjadi kemestian anak dihantar ke pusat tuisyen sejak Tahun Satu lagi bagi memastikan mereka mendapat semua A dalam UPSR dan kemudian PMR. Malah, ada sekolah dan negeri tertentu menumpukan perhatian khusus bagi mengekalkan rekod kecemerlangan dari segi pencapaian akademik murid sehingga mengabaikan aspek sosial dan kesukanan.

Kita tidak tahu sama ada ribuan murid yang lulus cemerlang dalam kedua-dua peperiksaan itu terus cemerlang dalam kerjaya mereka atau sebaliknya. Apa yang kita pasti, sejak beberapa tahun lalu, amat sukar bagi industri tertentu mendapatkan pekerja baru, walaupun lulus cemerlang sukar memiliki kelayakan sesuai.

Industri media dan komunikasi misalnya, bukan saja menghadapi masalah dalam mendapatkan graduan Melayu fasih berbahasa Inggeris, malah berkomunikasi dengan baik. Anehnya, kebanyakan mereka dipanggil untuk ditemuduga berdasarkan kelulusan cemerlang atau melebihi paras biasa pada diploma atau ijazah masing-masing. Bagi menghadapi fenomena ini, industri terpaksa memperkenalkan kursus khas bagi melengkapkan graduan ini dengan aspek keyakinan diri, komunikasi dan kemahiran berbahasa.

Bagaimanapun, ia bukan bermakna ujian tidak diperlukan lagi. Peperiksaan perlu untuk menilai pencapaian seseorang pelajar, tetapi matlamat pembelajaran tidak seharusnya bertumpu kepada lulus cemerlang semata-mata.

Yang lebih penting ialah bagaimana mahu melahirkan murid yang lebih kreatif dan inovatif, sebagai asas mewujudkan generasi bersifat holistik. Kita bukan saja mahu generasi cemerlang dalam akademik, tetapi juga yang mempunyai jati diri, sahsiah dan akhlak mulia sekali gus mampu menghadapi pelbagai cabaran masa depan.

Justeru, yang perlu dipersoalkan bukannya UPSR dan PMR dimansuh atau tidak, tetapi sama ada dasar dan strategi pendidikan kebangsaan sekarang benar-benar boleh melahirkan satu bangsa Malaysia seperti diimpikan menerusi Wawasan 2020. Tidak kurang pentingnya ialah sistem pendidikan kita tidak harus menjadi modal politik kelompok dan golongan tertentu.