| Saya tertarik membaca artikal ini yang dihasilkan oleh Jim Supangkat melalui Art News Indonesia. Persoalan kini yang dibincang hangat mengenai Global Art yang dikaitkan dengan Seni Kontenprori. Penulisan ini saya terus petik tanpa pindaan untuk bacaan kita. Discoursing Contemporaneity | ||
| oleh Jim Supangkat | ||
| Lukisan Awi Ibanesta, seniman otodidak asal Wonosobo, Jawa Tengah. Karya ini sekadar dipajang sebagai "foto", bukan untuk menjelaskan atau menderivasikan gagasan dalam artikel di bawah ini. (foto: kuss indarto) | ||
| SEJARAWAN seni rupa terkemuka Hans Belting melihat global contemporary art sebagai “global art” yang harus dibedakan dari “world art”. Bagi Hans Belting pengertian world art mencerminkan pemahaman modernisme yang hegemonik. (1) Dalam pembacaan saya pengertian world art berpangkal pada pemikiran modern tentang realitas dalam lingkup universal. World art adalah Western art yang di-claim berlaku di seluruh dunia setelah dikukuhkan sebagai modern art. Asumsi ini berhenti pada claim karena tidak menjadi universal reality. Tidak pernah dikaji bagaimana modernisme mengalami translasi dan transformasi di luar Eropa dan Amerika Serikat dan menjadi modernisme yang berbeda. Kendati modern art yang bertumpu pada modernisme dikenal juga di seluruh dunia tidak bisa dipastikan apakah modernisme—a complicated discourse—sesungguhnya dipahami dan kemudian dianut di luar Eropa, Amerika. Global art, menurut Hans Belting sama sekali bukan tanda-tanda munculnya kenyataan yang diprediksi unversalisme. Global art muncul karena sebab-sebab ekonomi. Perkembangannya di art market tidak peduli pada keseragaman yang diyakini universalisme. Bisnis membuatglobal contemporary art mempedulikan kekuatan lokal demi bisnis (memperhitungkan persepsi publik, persepsi kolektor dan seniman) dan kemudian merayakan perbedaan. Karena itu globalisme, kata Hans Belting, adalah anti-thesis universalisme. (2) Dalam pembacaan saya gagasan Hans Belting membedakan “world art” dan “global art” bukan hanya membedakan modern art dan contemporary art. Pembedaan ini meliputi pula pembedaan “contemporary art“ dengan “global contemporary art”. Bila dibaca lengkap “contemporary art” tidak lain adalah “world contemporary art”. Dalam sudut pandang ini “world contemporary art” adalah kelanjutan “world modern art” sekalipun dalam banyak pandangan hubungan ini disangkal karena contemporary art disebut-sebut berada padaplatform baru yang sama sekali lain. Maka “world contemporary art” mengandung pengertian hegemonik juga. Tandanya yang sampai sekarang diyakini adalah perubahan besar dari seni rupa modernis ke seni rupa post-modernis. Seperti modernisme tanda ini (perubahan dari seni rupa modernis ke seni rupa post modernis) tidak bisa dipastikan apakah dipahami sepenuhnya di luar Eropa dan Amerika Serikat. Melihat world contemporary art sebagai kontinuitas world modern art membangkitkan kesadaran bahwa world contemporary art kembali berhenti pada claim dan tidak menjadi kenyataan. Model contemporary art yang berkembang di Eropa, Amerika Serikat tidak bisa ditemukan di luar Eropa, Amerika Serikat. Kemungkinannya, contemporary art di luar Eropa, Amerika Serikat, ada tapi tidak sepenuhnya dipahami, atau ada sebagai copy yang tidak bermakna. Di sini, pengertian global contemporary art menjadi berarti. Pertanyaan “what is contemporary art ” harus diubah menjadi “what is global contemporary art ” Hans Belting mengemukakan pertanyaan ini akan menyuruk ke pertanyaan mendasar dan terbuka untuk berbagai kemungkinan yaitu “what is art in global sense.” (3) Buku Terry Smith, What is Contemporary Art? Mungkin buku paling komprehensif dalam menguraikan tanda-tanda perkembangan seni rupa kontemporer pada dekade 1990 dan dekade awal 2000. Buku ini memasukkan kajian art market dalam tegangan global-local,membahas sejarah seni rupa dan perkembangan museum dalam pertentangan modern-contemporary, dan, benturan arus perkembangan Utara-Selatan dalam kajian post-colonial.Dalam pengamatan saya contemporary art dalam buku ini dibahas baik sebagai world contemporary art maupun sebagai global contemporary art. Saya melihat ruang antara (space in between) yang terletak di antara world contemporary artdan global contemporary art pada kajian Terry Smith. Ruang antara ini tercermin pada pembahasan contemporaneity yang disebut, “[...] the most evident attribute of the current world picture [...]”. Terry Smith menulis, Within contemporaneity, it seem to me, at least three sets of forces contend, turning each other incessantly. The first is globalization itself, above all, its thrists for hegemony in the face of increasing cultural differentiation (the multeity that was realesed by decolonization), for control of time in the face of the proliferation of asynchronous temporalities, and for continuing exploitation of natural and (to a degree not yet seen) visual resources against the increasing evidence of the inability of those resources to sustain this exploitation. Secondly, the inequity among peoples, classes, and individuals is now so accelerated that it threatens both the desires for dominations entertained by states, ideologies, and religious and the persistent dreams of liberation that continue to inspire individuals and peoples. Thirdly, we are all williynilly immersed in a infoscope—or better, a spectacle, an image economy or a regime of representations—capable of the instant and thoroughly mediated communication of all information and any image anywhere. (4) Dari pandangan itu saya tertarik khususnya pada penghubungan contemporaneity dengan tegangan (tensions) di antara globalization yang membawa tanda-tanda hegemony denganmulteity that was realesed by decolonization. Tegangan ini menunjukkan pertarungan image global contemporary art yang sekarang ini terjadi. Pertarungan image ini berpangkal pada pertanyaan: apakah global contemporary art memunculkan keseragaman atau justru keragaman. Keyakinan yang melihat global contemporary art memunculkan keseragaman melihat global contemporary art berdasarkan faktor spatial dengan menekankan the present. Di sini global contemporary art mempunyai makna yang tetap dan pasti karena tidak dipengaruhi faktor temporal yang membuat makna menjadi tidak tetap dan cenderung terus berubah. Keyakinan ini bahkan cenderung memutuskan the present dari sejarah (selain dipengaruhi faktor spatial dan temporal, sesuatu makna selalu dipengaruhi sejarah pengertiannya). Ini tercemin pada upaya meninggalkan predikat “contemporary” dan menggantinya dengan predikat “now” yang mencerminkan penekanan the present. Maka muncul kemudian istilah-ilstiah global art nowdan art now yang sekarang semakin banyak digunakan. Saya rasa gejala ini ada hubungannya juga dengan kecederungan art market—yang dominan pada dekade awal 2000—untuk meminggirkan contemporary art discourses. Pada arus baru yang percaya pada keseragaman itu tidak ada masalah dengan pengertiancontemporaneity yaitu the quality of belonging the same period of time,” dan “the quality of being current or of the present.” (5) Bagi saya, pengertian contemporaneity di sebaliknya mengandung masalah karena saya percaya bahwa gobal contemporary art justru memunculkan keragaman dan keragaman inilah yang membedakannya dari world contemporary art. Karena itu saya cenderung “membuka” pembahasan contemporaneity dan menempatkannya pada tingkat mediasi—discoursing contemporaneity—untuk menjelajahi persoalan multeity. Pada perkembangan seni rupa kontemporer upaya menampilkan multeity itu dilakukan Jean-Hubert Martin melalui pameran menghebohkan, Les Magiciens de la Terre di Pusat Kebudayaan Pompidou, Paris pada tahun 1989. Pada pameran ini Jean-Hubert Martin mendampingkan karya-karya seni rupa kontemporer dengan karya-karya seni rupa tradisional antara lain instalasi tanah pendeta-pendeta Tibet, dan, lukisan perempuan-perempuan Uttar Pradesh, India yang menggunakan bidang lukisan menyerupai kanvas. Pameran itu memunculkan kontroversi panjang dan dibahas selama bertahun-tahun di foracontemporary art. Pada kontroversi ini Jean-Hubert Martin diserang dunia seni rupa di Prancis dan di dunia. Sesudah itu percobaan Jean-Hubert Martin tidak berlanjut pada perkembangan seni rupa kontermporer. Gejala itu menunjukkan cara paling umum memahami multeity dan membuatcontemporaneity yang terpusat pada pertanyaan sama-tidaknya seni rupa kontemporer dengan “seni rupa kontemporer” etnik menjadi tidak bisa dibahas. Masalahnya terletak pada pada kata “quality” pada pengertian umum contemporaneity, “Dalam contemporary art discourses “quality” ini bertumpu pada art in Western sense yang tentunya tidak bisa disamakan dengan ”quality” yang bertumpu pada ethnic art sensibilities. Di sini pembahasan contemporaneity menghadapi kebuntuan karena tidak ada platform untuk membahas secara simultan art in Western sense dan art in ethnic sensibilities yang kajiannya terkurung dalam lingkup etnologi dan antropologi dari zaman kolonial sampai sekarang. (6) Dilema ini tidak bisa dilepaskan dari modern thinking sensibilities di mana commensurability yang mendasari semua pemikiran modern mengalami benturan dengan incommensurability thesis yang dipegang para etnolog dan antropolog. Pada perkembangan seni rupa modern pertanyaan, “apakah art in ethnic sensibilities bisa disamakan dengan art in Western sense” bisa dengan tegas dijawab, “tidak” karena dalam modernisme modernitas diyakini adalah kontradiksi tradisionalitas. Pada perkembangan seni rupa kontemporer yang menentang modernisme, pertanyaan ini seharusnya mencari jawaban yang berbeda. Namun pada kenyataannya, pertanyaan ini tidak bisa dijawab. Gejala ini menunjukkan masih berpengaruhnya visi modern bahkan visi kolonial dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Karena itu saya cenderung tidak mencoba menjawab pertanyaan “apakah art in ethnical sensibilities bisa disamakan dengan art in Western sense”.Saya justru mempertanyakan mengapa pembahasan contemporaneity pada global contemporary art harus kembali ke pertanyaan ini? Kendati saya tidak meninggalkan persoalan art in ethnic sensibilities saya meninggalkan upaya membanding-bandingkannya dengan art in Western sense. Saya cenderung mencari jalan memutar dengan membandingkan perkembangan contemporary art, inside dan outside Eropa dan Amerika Serikat. Contemporary art adalah wilayah di mana perbandingan ini bisa dilakukan untuk menemukan baik kebedaan mau pun kesamaan. Di wilayah seni rupa modern tidak ada ruang untuk perbandingan ini. Perbandingan itu tidak berhenti pada the present. Perbandingan ini melibatkan pengkajian sejarah bagaimana contemporary art muncul, inside dan outside Eropa, Amerika Serikat. Kemudian lebih jauh melihat kembali perkembangan seni rupa sebelum kemunculan seni rupa kontemporer. Di sini mundur lebih ke belakang lagi ke pencarian tanda-tanda pada Abad ke 19 di mana modern thinking sensibilties dan visi kolonial berpangkal. Pada Abad ke 19 bisa ditemukan pula, pangkal adaptasi pemikiran modern di luar Eropa, Amerika Serikat, dan bagaimana pemikiran ini diterjemahkan dan mengalami transformasi. Termasuk di sini adaptasi dan penerjemahan art in Western sense. Dari perbandingan itu bisa ditemukan kebedaan maupun kesamaan perkembangan seni rupa sejak Abad ke 19. Dari perbandingan ini akan terlihat bahwa di luar Eropa dan Amerika Serikat berkembang seni rupa modern yang lain di mana tidak ada kesadaran memisahkan modern art sensibilities dengan ethnic art sensibilities yang menandakan penolakan kontradikisi modernitas dan tradisionalitas. Karena itu pengaruh ethnic art sensibilities bisa ditemukan. Akan terlihat pula bahwa perbedaan modern art dan contemporary art ternyata tidak tajam. Kehadiran ethnic art sensibilities pada seni rupa kontemporer merupakan kelanjutan perkembangan sebelumnya dan bukan karena “reaksi” pada pertentangan modernisme dan pemikiran-pemikiran postmodern. Tanda-tanda itu menunjukkan pada perkembangan seni rupa kontemporer di luar Eropa, Amerika Serikat pertanyaan, sama-tidaknya seni rupa kontemporer dengan “seni rupa kontemporer” etnik bukan pertanyaan yang dilematis dan bisa menghasilkan jawaban yang masuk akal. Uraian pada jawaban ini akan menunjukkan kedudukan ethnic art sensibilitiespada seni rupa kontemporer yang lepas dari modernisme dan visi kolonial. Uraian ini bisa digunakan juga untuk mengkaji keragaman pada seni rupa kontemporer dan mempersoalkanmulteity pada global contemporary art. Catatan kaki: (1) “Contemporary Art as Global Art, A Critical Estimate,” Hans Belting. Dalam The Global Art World. Audiences, Markets and Museums. Hans Belting, Andrea Buddensieg (ed.). Hatje Cantz. Ostfinden. 2009. pp. 38-73. (2) Ibid. (3) Keynote speech seminar, “A New Geography of Art in the Making” yang diselenggarakan Center for Art and Media, Karlsruhe bersama Göethe Institute di Hongkong 21- 22 Mei, 2009. (4) What is Contemporary Art? Terry Smith. University of Chicago. Chicago-London.2009. pp. 5-6 (5) Wikipedia. (6) Gejala ini bisa dilihat pada tulisan Denis Dutton, “But They Don’t Have Our Concept of Art”. Dalam Theoreis of Art Today. Noël Caroll. (ed). The University of Wisconsin Press. London. 2000. pp.217-238 | ||
| *) Ketua Tim Juri Indonesia Art Award (IAA) 2010 |
Wednesday, June 23, 2010
Persoalan Global Art
Tuesday, June 22, 2010
Perisian terbaru untuk pereka industri dan grafik
Sunday, June 20, 2010
melahirkan murid invotif asas jadi generasi holistik
Matlamat pembelajaran bukan lulus cemerlang
Berita Harian 2010/06/21
Tuesday, June 15, 2010
Kurikulum Baru Pendidikan Seni Visual....
Monday, June 14, 2010
Kurikulum baharu tahun depan
DALAM tempoh Rancangan Malaysia Kesepuluh, (RMK-10) kurikulum baharu untuk sekolah rendah dan menengah akan diperkenalkan.
Kurikulum Bersepadu Sekolah Rendah akan diganti dengan Kurikulum Standard Sekolah Rendah tahun depan diikuti dengan kurikulum baharu untuk sekolah menengah.
Kurikulum berbentuk modular itu akan memberi peluang kepada semua pelajar melalui proses pembelajaran mengikut kemampuan sendiri. Ia juga memupuk sikap bertanggungjawab terhadap pembelajaran sendiri menerusi aktiviti eksplorasi yang boleh menyerlahkan potensi mereka.
Kurikulum itu akan menekankan kreativiti, inovasi dan keusahawanan merentasi semua mata pelajaran.
Sebagai usaha membentuk pelajar seimbang dari segi akademik dan kesukanan, kurikulum baharu akan menjadikan Sukan sebagai subjek mata pelajaran mulai tahun depan.
Sehubungan, peruntukan untuk geran sukan bagi setiap pelajar akan dinaikkan dari RM2.40 kepada RM4 bagi sekolah rendah dan RM4 kepada RM6 untuk sekolah menengah.
Di bawah RMK-10, kerajaan akan melaksana pelbagai kaedah perkongsian awam-swasta seperti dalam pengurusan sekolah dan pembiayaan yuran sekolah.
Kerajaan juga akan menyediakan insentif kepada pengusaha swasta bagi mempercepatkan penyediaan prasekolah dan membolehkan mereka mendapat geran pembinaan di kawasan kurang membangun di luar bandar.
Sektor swasta dijangka membina 488 prasekolah tahun ini, 1,000 tahun depan dan 1,145 tahun 2012.
Skim pembiayaan bersama bagi meningkatkan permintaan terhadap pendidikan prasekolah juga akan dilaksana bagi membantu golongan berpendapatan rendah.
Bantuan sehingga RM150 sebulan diberikan kepada mereka untuk pendidikan kanak-kanak berumur 4+ dan 5+ tahun di prasekolah swasta.
Dalam tempoh rancangan, umur bagi memulakan persekolahan akan dikurangkan daripada 6+ kepada 5+. Langkah ini selaras dengan amalan negara maju.
Sementara itu perkongsian awam-swasta dalam pendidikan asas memberi autonomi kepada pengendali sekolah sebagai tukaran kepada penambahbaikan yang spesifik dalam prestasi pelajar seperti yang dipersetujui dalam kontrak rasmi.
Model serupa telah diguna pakai di sekolah persendirian Cina di Malaysia seperti yang diguna pakai oleh Charter School di Amerika Syarikat, Independent School di Sweden serta specialist school dan academy school di United Kingdom.
Tuesday, June 8, 2010
Reka bentuk Automobil TEKSI masa depan





Pelbagai reka bentuk dihasilkan oleh pereka untuk memenuhi keperluan pelanggan. Di New York sebuah syarikat UniCab telah membentangkan proposal reka bentuk untuk sebuah teksi yang ‘eco-friendly’ direka untuk bandar New York. Reka bentuk ini adalah memenuhi keperluan sebuah kereta penumpang masa depan dengan memenuhi keperluan semasa. Ciri-ciri reka bentuk seperti sebuah powertrain elektrik, kabin yang luas dengan kapasiti tempat duduk untuk empat orang dan sistem 'infotainment' yang menampilkan maklumat perjalanan dan pelancongan. Memenuhi keperluan digital dan ICT.
Reka bentukl ini disokong oleh sebuah sistem penggerak sepenuhnya dengan empat motor elektrik di roda, yang membolehkan penggunaan secara elektronik. Hal ini disokong oleh sebuah sistem penggerak penuh dengan empat motor elektrik di roda.
Bateri boleh dicas semula dengan mudah melalui infrastruktur yang disebuat sebagai "Boomerang Hub Recharging Stations", (Tempat cas bateri) terletak di kedudukan strategik di seluruh Bandar New York.
Friday, June 4, 2010
Industri Kreatif, apa sebenarnya?

1. Audio Visual & New Media
a. Animasi
b. Interaktif
c. ‘Mobile’
d. Kandungan Internet
e. On-line Publishing/ Multimedia Exhibits
f. Penerbitan Filem
g. Penerbitan TV
h. Muzik
2. Rekaaan
a. Perkaan Produk
b. Fesyen
c. Aksesori
d. Seni Reka/Seni Bina
3. Seni & Kraf
a. Seni Persembahan
b. Galeri Seni/ Muzium
c. Kraftangan
d. Seni Arca
e. Arkib
f. Warisan/ Antikuiti
g. Seni Tradisional
4. Media cetak
a. Penerbitan
b. Penulisan
Tuesday, May 25, 2010
Kereta terbang Pertama dicipta



Permalahan kesibukan jalanraya dan masalah masa menyebabkan beberapa pakar mencipta kereta terbang. Kereta terbang pertama telah dicipta oleh kumpulan yang dinamakan Terrafugias. Inc. “Terrafugias” adalah dari bahasa Latin bermaksud "melarikan diri dari tanah". Terrafugia (ter-ra-foo-gee-ah), yang berpusat di Woburn, MA, terdiri daripada sebuah pasukan jurutera yang telah pemenang beberapa anugerah dan bersetuju untuk memajukan keadaan pesawat peribadi sejak tahun 2006. Beberapa pernerbangkan telah diuji dan menyelesaikan penerbangan bersejarah pertama pada tarikh 5 Mac 2009 dengan 27 penerbangan tambahan selesai selama beberapa minggu berikutnya. Ujian dibuat oleh Pilot Kolonel (Purn) Phil Meteer punya ulasan positif menerbangkan POC: menurutnya “saya ingin terus terbang ini Bukti Konsep kenderaan, tapi masuk akal untuk pindah ke Prototaip Beta”. Setelah berhasil dan menyelesaikan penerbangan-ujian dengan ‘Bukti Konsep’ menyimpulkan tahap pertama dari proses tahap keempat untuk membawa ke dalam pengeluaran sebenar. Namun demikian proses seterusnya sedang dilakukan ke Tahap ke-2, Harapan kumpulan pencipta ini ialah penghasilan prototaip beta dan dijangka penghantaran pertama diharapkan pada tahun 2011.
Kereta terbang ini dikategorikan sebagai ‘Light Sport Aircraft’, sedang untuk mendapatkan sijil dari sukan penerbangan. Kereta terbang ini adalah pesawat dua-kerusi direka untuk lepas landas dan mendarat di lapangan terbang tempatan dan boleh dibawa untuk memandu di jalan raya atau lebuh raya sebagai kenderaan motokar biasa. Transformasi dari kapalterbang ke kereta memuat pilot kurang dari 30 saat. Peralihan ini akan jelajah hingga 450 batu lebih dari 115 mph, akan mendorong kelajuan dalam perjalanan biasa, dan boleh sesuai untuk disimpan pada ruang penimpanan kereta. Untuk melihat video sila klik: http://www.youtube.com/watch#!v=Xo0MEQSGW8w
Monday, May 24, 2010
Animasi Upin dan Ipin mendapat tempat di Indonesia - terdapat Blog Di Indonesia iri hati dengan kejayaan Animasi Malaysia



Kejayaan filem Animasi Upin dan Ipin keluaran produksi Les’ Copaque Sdn. Bhd. Merupakan satu kejayaan bagi rakyat Malaysia khususnya yang terlibat secara langsung dalam bidang Seni Visual. Sejak Animasi 3D Upin dan Ipin dijanakan melalui TV 9 sekitar tahun 2007 ramai peminat rancangan ini telah memberi respon positif.
Upin dan Ipin ceritanya diolah secara bersahaja yang mengisahkan kehidupan watak kanak-kanak ketika kecil dalam kelompok keluarga Islam. Paling penting penceritaan yang menarik dan mesej yang disampaikan meninggalkan kesan mendalam pada psikologi anak-anak.
Antara perkara yang menarik perhatian dalam kisah Upin dan Ipin ialah:
Keagamaan (Islam)– secara tak langsung dapat mendidik anak-anak tentang asas agama seperti sembahyang, berpuasa, zakat dan lain-lain.
Moral – kanak-kanak dapat melihat secara positif tentang nilai nilai yang baik.
Sosial – pergaulan antara kaum yang diolah begitu berkesan kena dengan budaya 1Malaysia.
Watak upin dan ipin dibantu oleh watak-watak yang jelas akan kriteria masing-masing. Watak-watak lain adalah, Opah – nenek yang menjadi penjaga sepenuh masa kepada upin dan ipin setelah kematian ibu bapanya. Kak Ros – kakak kepada upin dan ipin yang menjaga upin dan ipin secara sambilan. Rakan-rakan – Ehsan, Mail, Me Mei, Fizi, Jarjit dan ramai lagi
Sebenarnya Animasi di Negara ini telah pun bermula sejak tahun 1940-an lagi Animasi di Malaysia bermula pada tahun 1946 dengan tertubuhnya Unit Filem Malaya (sekarang dikenali sebagai Filem Negara). Filem animasi pendek yang pertama ialah Hikayat Sang Kancil (Anandam Xavier, 1978) dan ditayangkan pada tahun 1983. Filem pendek yang muncul di antara tahun 1984 dan 1987 ialah: Sang Kancil & Monyet, Sang Kancil & Buaya, Gagak Yang Bijak, Arnab Yang Sombong dan Singa Yang Haloba. Gesaan kerajaan terhadap penggunaan teknologi digital pada awal 1980-an menyaksikan penghasilan siri TV pertama, Usop Sontorian diterbitkan oleh Kharisma Pictures Sdn. Bhd. 1993-1996 Manakala filem cereka pertama, Silat Lagenda (Hassan Abd Muthalib) ditayangkan pada tahun 1998. Kemudian kartunis agung Malaysia Lat telah menerbitkan filem animasi ‘Kampong Boy’ filem ini dibangunkan di Amerika dan dianimasikan di Filipina dan ditayang melalui ASTRO.
Kembali semula pada kejayaan Ipin dan Upin, sauatu perkembangan yang sungguh menarik. Kerana kejayaannya mendapat tempat diluar Malaysia. Kita disini sering berbangga dengan animasi Jepun seperti Cing Chan dan Doremon, sebaliknya di Indonesia animasi Upin dan Upin sentiasa ditunggu oleh kanak-kanak di sana dan sekarang menjadi ajukan perkataan ‘BETUL BETUL BETUL’.
Namun demikian, kejayaan ini telah menibulkan rasa iri hati kalangan beberapa rakyat disana sebagai contoh sebuah blog (http://bloggerbekasi.com/2010/05/17/upin-dan-ipin-bisa-menghancurkan-bangsa-indonesia.html) telah mengutarakan pendapat dan kerisauan kejayaan animasi produk Malaysia dengan menyatakan:
…..‘upin dan ipin , slah satu serial kartun yang beredar di indonesia , yang berasal dari malaysia,, lambat laun kartun ini bisa menghancurkan bangsa kita INDONESIA ,,
pada salah satu episodenya , upin dan ipin menyanyikan lagu rasa sayange versi malaysia . Apabila episode tersebut sering di putar di TV nasional INDONESIA , bukan tidak mungkin anak indonesia lebih hafal lagu RASA SAYANGE versi malaysia ketimbang versi INDONESIA ,,
bukan tidak mungkin suatu saat upin dan ipin menyanyikan lagu kebangsaan kita namun dengan lirik yang di ubah menjadi cemoohan , WASPADA PRODUK MALAYSIA.
Apapun, kejayan Upin dan Ipin merupakan kejayaan Malaysia dan kejayaan bidang Seni Visual di Negara ini. Menurut Pengarah Urusannya, Burhanuddin Mohd. Radzi Animasi ini sekarang akan berkunjung ke seluruh India dan Amerika Latin. Tahniah.
Sunday, May 16, 2010
Selangor hargai karyawan seni kreatif, kritis
Beliau berkata, sumbangan besar dari hasil melalui kegiatan seni tidak harus disekat, bahkan ia sepatutnya disuburkan bagi menggalakkan penglibatan masyarakat khususnya golongan belia yang pada usia mereka gigih mencari pelbagai inspirasi.
Abdul Khalid berucap merasmikan Pameran Pelukis Selangor 2010 di Galeri Shah Alam dekat sini petang semalam. Teks ucapannya dibacakan oleh setiausaha politiknya, Nik Nazmi Nik Ahmad.
“Perkembangan atau kemajuan sesebuah negara atau negeri turut didorong oleh percambahan minda atau fikiran yang terhasil daripada kerancakan aktiviti seni yang mencetuskan kreativiti serta pemikiran kritis yang seterusnya menyumbang terhadap perubahan kebudayaan, ekonomi dan politik.
“Pemikiran kreatif yang diilhamkan melalui kreativiti penulisan terbukti berjaya melahirkan ramai tokoh pemikir di dunia Barat dan di rantau Asia Tenggara.
“Ia mampu mempengaruhi rakyat untuk bangun memperjuangkan keadilan dan menentang kezaliman serta membangkitkan semangat patriotisme dalam kalangan marhaen. Umpamanya, revolusi Peranchis dan kebangkitan rakyat Indonesia menentang kezaliman Belanda yang diilhamkan lewat sajak-sajak dan karya seni lainnya pada zaman itu,” tegasnya lagi.
Oleh itu, jelasnya, penglibatan karyawan seni visual sama ada amatur mahupun tersohor di seluruh pelosok Negeri Selangor diharap bakal berkampung pada pameran yang menyusul.
“Saya yakin masih ramai penggiat seni yang tidak mempunyai peluang dan ruang untuk menyertai pameran kali ini, berkemungkinan permintaan untuk mereka menghantar karya-karya terbaharu membatasi hajat mereka untuk mempamerkan hasil ciptaan masing-masing,” sarannya lagi.
Pameran kali kedua ini diadakan sejajar dengan penubuhan Yayasan Seni Selangor dan selari dengan usaha Galeri Shah Alam menggiatkan aktiviti seni visual khususnya di Negeri Selangor. Seramai 38 karyawan seni terlibat dengan lebih 60 hasil karya dipamerkan.
Antara mereka adalah pelukis Abdul Ghafar Ibrahim dengan lukisan bertajuk Lalat, Abu Bakar Sabran (Mantan), Ahmad Kamarul Bahri Shan (Untitled), Ainal Fuadi Md Said (White Noise), Chia Seng Chai (Momento), Haron Mokhtar (Di celah Pohon Getah), Hashim Hassan (Daun-daun Berguguran), Mohd Aris Atan (Az-Zukhruf: 32), Mohd said Abu (Mencari di Hutan Rimba) dan Shahril Awang (Segala Pujian Hanya Pada Allah).
Abdul Khalid menambah, dengan adanya kerjasama antara pihak yang berkepentingan dalam bidang seni ini, persatuan pelukis dan penggiat seni lainnya seharusnya menggiatkan aktiviti seni bukan sahaja berbentuk pameran tetapi menggerakkan program pendidikan seperti bengkel, seminar dan karnival seni yang boleh disertai oleh pelbagai lapisan masyarakat.
Pihak kerajaan negeri , ujarnya, berhasrat supaya Galeri Shah Alam dapat mengembangkan lagi aktiviti dan menambah bilangan penyertaan karyawan seni negeri Selangor khususnya.
“Saya yakin karyawan seni tempatan mampu menghasilkan karya seni bermutu dan bakal menjadi bahan apresiasi serta sebutan sepanjang zaman. Sebagai insan kreatif, rutin menghasilkan karya bisa mempertingkat kemahiran psikomoto dan pemikiran sejajar dengan pembangunan teknologi, ekonomi dan sosio budaya masyarakat tempatan mahupun antarabangsa,” tegasnya.
Saturday, May 15, 2010
MESYUARAT AGUNG GABUNGAN PELUKIS MALAYSIA




Wednesday, May 5, 2010
Video reka bentuk logo bermula dari lakaran kenik
Galeri seni UiTM di Melaka
Oleh Badrul Hizar Ab Jabarbhizar@bharian.com.my2010/05/05
Sunday, May 2, 2010
Gambar-gambar penutupan rasmi pameran Seni Visual STPM 30 April 2010





